Komunikasi Terapeutik pada Anak untuk Melihat Perkembangan Otonomi anak

Komunikasi Terapeutik pada Anak untuk Melihat Perkembangan Otonomi anak



Komunikasi pada anak merupakan suatu proses penyampaian dan transfer informasi yang melibatkan anak sebagai pengirim pesan maupun penerima pesan. Dalam proses ini dilibatkan usaha-usaha untuk mengelompokkan, memilih dan mengirimkan lambang-lambang sedemikian rupa   yang dapat membantu seorang pendengar atau penerima berita mengamati dan menyusun kembali dalam pikirannya arti dan makna yang terkandung.
            Selain dari pada itu,  perkembangan stimulus motorik anak juga seharusnya berkembang sesuai dengan usianya, anak sudah mulai belajar  untuk  mempunyai  wewenang/  otonomi pada daerah pribadinya. Orang tua hendaknya memberikan kebebasan untuk menentukan kebebasan   atau   membiarkan   anak   untuk mempelajari   dunianya. Jika anak-anak terlalu dilindungi kecenderungan  anak  juga  menjadi malu, Jika keadan ini dibiarkan berlanjut maka anak-anak dapat menjadi bergantung pada orang lain.
 Perawat diharapkan mampu memulai menciptakan komunikasi, dengan demikian, perawat akan mendapatkan informasi dan rasa percaya anak pada perawat serta menbantu anak agar dapat mengekspresikan perasaannya sehingga dapat dicari solusinya.   

Konsep Terkait Judul  
Komunikasi terapeutik pada anak adalah komunikasi yang dilakukan antara perawat dan klien (anak), yang direncanakan secara sadar , bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan anak. (Stuart G.W. 1998)
1.  Tahap sensorimotorik, bayi hingga usia 24 bulan
    Bayi menggunakan indra dan aktivitas motorik untuk menyelesaikan masalah dengan lingkungan. (Sheldon, 2009)
2.  Tahap Praoperasional, usia 2 hingga 7 tahun
     Anak-anak pada tahap ini mengembangkan keterampilan verbal. (Sheldon, 2009)
3. Tahap Operasional Konkret, usia 7 hingga 12 tahun
    Pada tahap ini anak-anak berhadapan dengan konsep yang lebih abstrak,
    seperti matematika dan hubungan kooperati. (Sheldon, 2009)
            Pasien anak merupakan individu yang unik, maka perlu terapkan nada suara yang rendah dan lembut, mengalihksn aktivitas, mempertahankan jarak yang aman pada saat berinteraksi, pertahankan kontak mata ketika anak sudah mulai menerima dan jangan pernah menyentuh anak tanpa izin. (Mundakir, 2005)
            Terdapat teknik komunikasi terapeutik yang dapat digunakan oleh perawat saat menghadapi  pasien anak, dimana teknik komunikasi terapeutik dapat dilakukan secara verbal. melalui pihak ketiga, bercerita, memfasilitasi, biblioterapi, meminta menyebutkan keinginan, tawarkan pilihan, dan penggunaan skala. Secara non verbal melalui menulis, menggambar, menggambar dan bermain. (Mundakir, 2005)

 Penelitian dari Jurnal Pendukung
      Terdapat penelitin yang dilakukan oleh  Nurmaguphita, D., Keliat, B.A., Putri, Y,S.E. (2018) terkait dengan penerapan komunikasi terapeutik pada anak  dalam jurnalnya yang berjudul Penerapan Terapi Kelompok Terapeutik Kanak-kanak dan Psikoedukasi Keluarga pada Anak dan Orangtua Terhadap Perkembangan Otonomi Anak.
          Komunikasi Terapeutik yang diberikan yaitu dalam bentuk terapi kelompok untuk anak usia kanak- kanak (1,5 sampai dengan 3 tahun) dilakukan untuk membantu mengatasi masalah dalam anggota keluarga terutama dalam hal perkembangan, sharing pengalaman dalam memberikan stimulasi perkembangan anak untuk  membantu  anak  mengembangkan tahapan otonomi. Terapi  Kelompok Terapeutik yang diberikan pada kelompok kanak-kanak dapat meningkatkan kemampuan dan  keterampilan  kanak-kanak  utuk  melatih rasa  inisiatif.  Tahapan   yang  ingin   dicapai dalam  tumbuh  kembang  anak  usia  kanak- kanak adalah otonomi (autonomy), Restimulasi yang dilakukan untuk mencapai tahapan perkembangan sesuai dengan usianya.
Metode yang digunakan adalah pemberian dua terapi spesialis keperawatan yaitu Terapi Kelompok Terapeutik dan Terapi Psikoedukasi Keluarga dengan menggunakan teori Promosi Kesehatan dan Adaptasi Model Stuart. Jumlah aanak-aanak  yang  diberikan  Terapi Kelompok Terapeutik adalah 20 orang beserta orang tuanya, dan yang mendapatkan Terapi Kelompok terapeutik dan Psikoedukasi Keluarga ada 15 orang, sehingga yang mendapatkan   Terapi   Kelompok   Terapeutik saja ada 5 orang anak-anak. Terapi ini dilakukan selama 5 kali pertemuan dan masing-masing pertemuan dilakukan selama kurang lebih 60 menit. Sebelum dilakukan terapi dilakukan proses persiapan dan penilaian kemampuan  perkembangan  dan  otonomi kanak-kanak. Selanjutnya akan dinilai setelah terapi dilakukan.
Didapatkan hasilnya pada Terapi Kelompok Terapeutik bahwa perkembangan motorik kasar yang masih rendah dari 20 anak adalah kemampuan anak untuk menendang  bola  yang  baru  14  anak, Berdiri dengan satu kaki selama beberapa detik yaitu dilakukan sebanyak 15 anak. Pada Terapi Kelompok Terapeutik dan Psikoedukasi Keluarga dalam hal melakukan kegiatan pencapaian rasa otonomi atau kemandiriannya anak, didapatkan kemampuan anak mengumpulkan kulit permen sebanyak 8 anak, kemampuan anak melipat lipat pakaian sebanyak 11 anak, senang bermain dengan teman sebayanya sebanyak 12 orang anak, dan berbagai percobaan lainnya. Didapatkan bahwa kemampuan stimulasi dan Psikoedukasi keluarga terdapat  hal  yang  belum  optimal  dilakukan oleh keluarga, masih separuh keluarga yang melatih stimulasi motorik  kasar  dan  halus  secara  benar.
Setelah diberikan promosi kesehatan dan diajarkan pemberian Terapi Kelompok Terapeutik dan Psikoedukasi keluarga memberikan peningkatan terhadap hasil yang dicapai   anak dalam melatih kemampuan perkembangan motorik dan halus serta otonominya. Kesadaran orangtua yang mampu memahami bahwa mestimulasi anak-anaknya memberikan pengaruh yang cukup tinggi dari pencapaian otonomi kanak- kanak. Orang tua tidak merasa diberi kewajiban, namun sudah secara mandiri menyadari bahwa ada tugas perkembangan yang harus dicapai dan perlu stimulasi untuk mengoptimalkan perkembangan anak.

 Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik pada anak sangat penting untuk diterapkan dalam memberikan asuhan keperawatan. Selain dari pada itu, sesuai dengan Teknik Komunikasi Terapeutik pada Anak  yaitu melibatkan orang ketiga atau orang tuanya, agar dapat memperoleh informasi lebih lanjut, Dengan Komunikasi Terapeutik, masalah pada anak dapat teratasi.
            Peranan komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat untuk mengecek perkembangan motorik kasar dan halus pada anak sangat berpengaruh, dibuktikan dengan perubahan perilaku pada anak dalam pencapaian tumbuh kembang, serta orangtua meningkatkan kemampuan mereka untuk merangsang anak-anak mereka, dan otonomi anak-anak mereka lebih tinggi.

Daftar Pustaka
Sheldon, LK. (2009). Komunikasi untuk Keperawata (ads 2). Jakarta :
               Penerbit Erlangga.
 Kozier, B., Erb, G., Berwan, A.j, & Burke, K. (2010). Fundamental Keperawatan        Konsep, Proses & Praktik ed 7. Jakarta : EGC.
Nurmaguphita, D., Keliat, B.A., Putri, Y,S.E. (2018). Penerapan Terapi Kelompok Terapeutik Kanak-kanak dan Psikoedukasi Keluarga pada Anak dan Orangtua Terhadap Perkembangan Otonomi Anak. Jurnal Ilmu Keperawatn Jiwa, 1, 14-23.


             

3 Responses to "Komunikasi Terapeutik pada Anak untuk Melihat Perkembangan Otonomi anak "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel